LAPORAN STUDI LAPANGAN
MATA KULIAH TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
ALGA
Dosen Pengampu
1.
Drs.
Sulisetijono, M.Si
2.
Ainun
Nikmati Laily,M.Si
Oleh
Nama : Arsinta Sulistyorini
NIM : 11620077

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAMNEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Keanekaragaman
makhluk hidup di dunia ini sangat beragam sekali. Tumbuhan, hewan, ataupun
mikroorganisme macamnya sangat banyak. Misalnya saja dalam dunia tumbuhan
khususnya tumbuhan rendah ditemukan juga banyak keragaman. Salah satunya adalah
alga. Alga sendiri terdiri dari beberapa divisi, kelas, ordo, family, genus dan
spesies. Teori-teori, penelitian, jurnal penelitian sudah banyak yang
dipublikasikan untuk menunjang berkembangnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan
itu sendiri tidak hanya digunakan sebagai teori saja akan tetapi sebagai alat
untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di kehidupan ini.
Keragaman
alga yang telah disinggung diatas akan lebih mudah dimengerti dan dipahami
ketika langsung mempelajari di habitat aslinya. Aplikasi dari teori yang telah
didapat di bangku kuliah dapat langsung dipraktekkan. Hal ini sangat penting
dilakukan oleh para mahasiswa atau penuntut ilmu lainnya. Studi lapangan
merupakan salah satu cara untuk mengetahui keanekaragaman suatu spesies di
tempat tertentu. Sehingga Mahasiswa
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang
mengadakan Studi lapangan dalam mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Rendah tentang
keanekaragaman alga yang berhabitat di zona pasang surut pantai Selatan Kondang
Merak. Sehingga diharapkan dari studi lapangan tersebut mahasiswa mengetahui
vegetasi dari alga yang ada disana masih bagus atau tidak.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam penelitian
ini adalah untuk studi lapangan keanekaragaman alga yang berhabitat di zona
pasang surut Pantai Kondang Merak terkait masih bagus atau tidaknya vegetasi
alga yang berada disana.
1.3 Manfaat
Manfaat
dalam studi lapangan ini adalah mahasiswa bisa mengetahui keanekaragaman alga
yang berhabitat di zona pasang surut Pantai Kondang Merak terkait masih bagus
atau tidaknya vegetasi alga yang berada disana.
BAB II
METODOLOGI
PENELITIAN
2.1 Waktu dan
Tempat
Penelitian tentang alga dilaksanakan pada hari kamis-jumat tanggal 15-16
Nopember 2012 di Pantai Kondang Merak. Penelitian ini dilaksanakan oleh
mahasiswa Jurusan Biologi Semester
III Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dan dilakukan identifikasi
serta pembuatan herbarium pada tanggal 17-19 Nopember 2012 di laboratorium
Ekologi.
2.2 Alat dan
Bahan
2.2.1 Alat
Alat yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1. Kantung Plastik (tempat menyimpan
alga) 1
buah
2. Alat tulis seperlunya
3. Alat Dokumentasi 1
buah
4.Ice Box 4
buah
5. Toples 45
buah
6. Aquarium kecil 2
buah
7. Beaker Glass 3
buah
8. Gelas Ukur 1
buah
9. Nampan 8
buah
10. Isolasi/plaster 3
buah
11. Spatula 1
buah
12. Buku identifikasi 2
buah
2.2.2 Bahan
Bahan dalam praktikum
ini adalah sebagai berikut:
1. Es
batu secukupnya
2. Kertas
Label secukupnya
3. Asam
Asetat Glasial 200
ml
4. Formalin 400
ml
5. Etil
alkohol 90 % 2000
ml
6. Pbs
(Timbal sulfat) 8
gram
7. Aquades 1400
ml
8. Alkohol
70% 2
botol
9. Algae
45
Jenis
2.3 Cara kerja
Cara kerja dalam studi
lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Diambil jenis algae yang ada di Pantai Selatan Kondang Merak secukupnya.
2. Dimasukkan algae yang didapat ke dalam wadah/ember.
3. Disiapkan ice box (termos es) untuk menyimpan algae yang didapat.
4. Dicuci dan dipilih algae untuk dimasukkan ke dalam ice box.
5. Ditutup rapat ice box dengan isolasi/ plaster
5. Dibuka ice box setelah sampai di laboratorium dan dicuci algae sampai
bersih.
6. Diidentifikasi algae dan diberi nama spesies, serta difoto algae yang
telah diberi nama.
7. Dipisahkan algae yang divisi Rhodophyta, Clorophyta, dan Paeophyta.
8. Disiapkan larutan untuk herbarium yaitu:
A. Larutan Fiksatif
a. Disiapkan Asam Asetat Glasial 200 ml, Formalin 10 ml, Etil Alkohol 90
% 2.000 ml.
b. Dicampur ketiga bahan diatas di dalam beaker glass 2 liter.
B. Larutan Tembaga Sulfat
a. Disiapkan PbS 8 gram dan Aquades 1400 ml.
b. Dicampur larutan diatas di dalam beaker glass 2 liter.
9. Dicampur larutan fiksatif dengan larutan tembaga sulfat dan dibagi
menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian dimasukkan ke dalam aquarium
kecil.
10. Dimasukkan algae ke dalam aquarium (Aquarium I : Clorophyta, Aquarium
II : Phaeophyta dan Rhodophyta) .
11. Direndam algae dalam larutan selama 2 hari (48 jam)
12. Ditutup aquarium dengan kertas aluminium.
13. Ditunggu selama 2 hari (48 jam) kemudian dibuka dan dikeluarkan
algae.
14. Disiapkan toples yang telah diisi alkohol 70% kemudian dimasukkan
algae ke toples dan ditutup toples dengan rapat.
15. Diberi label setiap toples sesuai dengan ciri-cirinya.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1
Turbinaria conoides
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]() ![]()
(Maharani,2010)
|
Keterangan :
1.
Thallus / Blades
2. Air Bladder
3. Staipe
4.
Frond
5.
Holdfast (terpotong)
3.1.1 Klasifikasi
Klasifikasi Turbinaria conoides
adalah sebagai berikut (Rachmaniar, R. 1999) yaitu :
Regnum : Plantae
Filum
: Thallophyta
Divisi
: Phaeophyta
Kelas
: Phaeophyceae
Suku
: Sargassaceae
Marga : Tubinaria
Jenis
: Turbinaria conoides
3.1.2 Pembahasan
Algae spesies Turbinaria
conoides ditemukan di zona surut pantai
Selatan Kondang Merak. Spesies ini berada 10 meter dari bibir pantai dan
melekat pada karang. Warna asli dari spesies ini adalah coklat yang
thallusnya/blades berbentuk seperti corong atau terompet. Spesies ini tidak
begitu banyak dibadingkan dengan Ulva lactuca yang mendominasi algae di pantai Selatan
Kondang Merak. Turbinaria conoides memiliki thallus berbentuk pipih, dan
yang bisa diukur adalah diameternya. Bagian- bagian tubuh dari Turbinaria conoides yaitu memiliki holdfast sebagai tempat
melekat di karang, frond sebagai tangkai tempat melekatnya blades atau thallus,
blades atau thallus, air bladder sebagai kantung menyimpan udara, dan staipe
sebagai batang. Tidak ditemukan percabangan dan thallus tersusun menggerombol
serta berhimpitan. Warna setelah mengalami pengawetan adalah sama dengan warna
aslinya yaitu coklat.
Turbinaria adalah alga dari divisi Phaeophyta dan tergolong ke dalam ordo Fucales.
Sebagian besar phaeophyta merupakan unsur utama penyusun vegetasi alga di
lautan arktik dan antartika. Di daerah perairan pesisir Turbinaria
berjumlah cukup banyak, namun jumlahnya lebih sedikit dari Padina sp. Turbinaria
adalah alga yang khas untuk lautan daerah tropis. Alga ini terletak
sepanjang pantai melekat pada batu-batuan, di dalam tubuhnya terdapat
konseptakel dan reseptakel. Morfologi dari alga ini memiliki philloid yang
berbentuk seperti kerucut segitiga dengan dilengkapi gelembung-gelembung udara,
terdapat receptakel di tiap ketiak daun serta memiliki bladder di bagian ujung
percabangan. Philloidnya berselang-seling letaknya. Turbinaria yang
ditemukan berwarna coklat kemerahan. Ujung cabang-cabang menggelembung dan
mengandung konseptakel serta receptakel. Secara anatomi, thallus terdiri atas
meristadem, korteks, dan medula. Di dalamnya terdapat oogonium, anteridium, dan
benang-benang mandul (parafis). Anteridium berupa sel-sel yang berbentuk
jorong, duduk rapat antara satu sama lain pada benang-benang pendek yang
bercabang-cabang. Tiap anteridium dapat menghasilkan 64 spermatozoid. Suatu
spermatozoid terutama terdiri dari bahan inti, suatu bintik mata dan dua bulu
cambuk pada sisinya. Oogonium berupa suatu badan yang duduk di atas tangkai,
terdiri dari satu sel saja dan mengandung 8 sel telur. Zigot lalu membentuk
dinding selulosa dan pektin, melekat pada suatu substrat dari tumbuh menjadi
individu yang diploid (Mc Dowell,1977).
Turbinaria memiliki ciri-ciri morfologi, daur hidup, cara reproduksi dan habitat
seperti Sargassum hanya saja bentuk filoidnya menyerupai terompet
(Setyawan,2000). Ganggang pirang (Turbinaria sp.) termasuk ke dalam
classis Phaeophyceae karena berwarna pirang karena dalam kromatoforanya
terkandung klorofil a, karoten, dan santofil, tetapi terutama fikosantin yang
menutupi warna lainnya dan yang menyebabkan ganggang itu berwarna pirang. Turbinaria
sp. termasuk dalam Ordo Fucales karena talusnya berbentuk pita, kaku
seperti kulit, bercabang-cabang menggarpu dan melekat dengan alat pelekat yang
berbentuk cakram. Ujung-ujung talus agak membesar dan mempunyai lekukan-lekukan
yang disebut konseptakel. Tubuhnya seperti pohon atau semak yang seolah
mempunyai akar, batang dan daun. Daunnya menggangsing melebar hingga distal
akhir membentuk batas helaian mahkota melalui barisan gigi. Bentuk talus
seperti terompet. Habitat dari Turbinaria
sp. (ganggang pirang) yaitu di laut. Vesikula berada di tengah mahkota.
Gametangia berongga pada permukaan reseptakel, talus bercabang mempunyai filoid
seperti piramida atau corong yang melekat pada sumbu utama. Gelembung udara
terletak pada filoid. Pada umumnya species ini ditemukan pada karang dengan
pasang surut rendah dan area subtidal sampai ke daerah ke ombak sedang hingga
ombak tinggi atau zona terang. Termasuk dalam ordo Fucales karena mempunyai
talus berbentuk pita yang ditengah-tengahnya diperkuat oleh suatu rusuk tengah,
kaku seperti kulit, bercabang-cabang menggarpu dan melekat pada batu dengan
alat pelekat yang berbentuk cakram (Lovelles, 1989).
Algae jenis ini mempunyai nama latin Turbinaria conoides (J.Argadh) Kuetzing
dan biasanya masyarakat Indonesia menyebut algae ini dengan nama Rumput coklat
corong. Algae jenis ini memiliki ciri-ciri batang berbentuk silindris, tegak,
kasar, terdapat bekas-bekas percabangan. Holdfast berupa cakram kecil dengan
terdapat perakaran yang berekspansi radial. Percabangan berputar sekeliling
batang utama dan daun merupakan kesatuan yang terdiri dari tangkai dan
lembaran. Di Pantai Kondang Merak algae jenis ini tidak begitu banyak
dibandingkan Ulva lactuca yang
mendominasi dan mudah ditemukan. Untuk pernyebaran umumnya algae jenis ini
terdapat di daerah rataan terumbu, menempel pada batu dan banyak tersebar luas
di perairan Indonesia. Untuk pemanfaatan rumput laut jenis Turbinaria conoides
(J.Agardh) Kuetzing ini belum banyak dimanfaatkan karena belum diketahui
kegunaannya. Dari beberapa penelitian yang telah dipublikasikan rumput laut
jenis ini digunakan sebagai sumber iodin, alginat dan mengandung sterol, serta
sebagai salad. Algae jenis ini bernilai ekonomis karena mempunyai potensi untuk
diekspor keluar negeri terutama ke Negara Jepang (Hasnunida ,2007).
Turbinaria banyak
dimanfaatkan sebagai bahan makanan, rabuk (fertilizer) karena kandungan
aranillaa tinggi, sumber algin, tanin dan phenol yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan juga berfungsi untuk menolak serangga (insect repellent) (Fritisch,
1945).
Hasil pengamatan di atas sesuai dengan
literatur-literatur yang telah ditulis di atas. Habitat, bentuk spesies, bagian-bagian tubuh spesies
dan reproduksinya.
3.2 Gelidium pusillum
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]()
(Yunizal, 2002)
|
Keterangan
:
1. thallus
3.2.1 Klasifikasi
Klasifikasi Gelidium sp. menurut Armisen dalam Phillips dan Williams
(2002) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Phylum : Rhodophyta
Class :
Rhodophyceae
Order :
Gelidiales
Family :
Gelidiaceae
Genus :Gelidium
Spesies : Gelidium sp
3.2.2 Pembahasan
Algae spesies Gelidium sp ditemukan di zona surut pantai Selatan Kondang Merak. Spesies ini berada 10
meter dari bibir pantai dan melekat pada karang. Warna asli dari spesies ini
adalah merah yang thallusnya/blades berbentuk seperti daun seledri. Spesies ini
tidak begitu banyak dibadingkan dengan Ulva lactuca yang mendominasi algae di pantai Selatan
Kondang Merak. Gelidium sp memiliki thallus berbentuk pipih, bisa
diukur diameternya dan panjangnya.
Bagian- bagian tubuh dari Turbinaria
conoides yaitu memiliki holdfast
sebagai tempat melekat di karang, blades atau thallus yang berbentuk seperti
daun yang dipinggirnya rintik-rintik berdekatan menyerupai daun seledri. Bercabang-cabang
menyirip dan thallus keras, tersusun menggerombol serta berhimpitan. Dan warna
setelah mengalami pengawetan adalah berubah menjadi hijau karena mungkin
tercampur dengan Clorophyta atau pengaruh dari zat-zat yang dijadikan bahan
untuk pengawet alga.
Menurut Setyawan, 2000
menyatakan bahwa Genus Gelidium sp. memiliki talus agak keras, silindris atau agak pipih,
bercabang-cabang menyirip. Alga ini merupakan penghasil agar (Agarophyta). Gelidium
sp. tumbuh baik pada daerah eulittoral dan sublittoral. Biasanya, Gelidium sp. dapat
ditemukan pada kedalaman laut 2-20 m (McHugh, 2003). Habitat dan sebaran Gelidium
di Indonesia pada umumnya di perairan pantai berbatu dan terbuka yang
kebanyakan di daerah pantai Samudera India. Sebanyak empat puluh jenis Gelidium
dikenal dari berbagai negara dan delapan jenis diantaranya terdapat di perairan
Indonesia, yaitu Gelidium latifolium, G. rigidium, G. cartilageneum, G.
corneum, G. crinale, G. cologlossum, G. pussilum, dan G. panosum.
Gelidium di Indonesia dikenal sebagai kades dan intip kembang karang (di
Jawa Barat), bulung merak dan bulung ayam (di Bali), dan sayur laut (Ambon)
(Kadi dan Atmadja 1988).
Pengaruh
yang banyak menentukan sebaran Gelidium adalah macam substrat, kadar
garam, ombak, arus, dan pasang surut. Substrat dasar tempat melekat Gelidium
biasanya berupa batu karang mati, gamping dan batu vulkanik. Kisaran kadar
garam perairan adalah 13-37%. Gelidium yang tumbuh di perairan laut
Indonesia adalah jenis-jenis yang cenderung di lingkungan dengan kadar garam
tinggi (sekitar 33%) (Kadi dan Atmadja 1988).
Berbagai jenis Gelidium di Indonesia dan
negara lain dimanfaatkan sebagai bahan baku pabrik agar-agar dalam negeri dan
sebagai komoditas ekspor. Kandungan agarnya berkisar antara 12-48%, tergantung
jenisnya (Yunizal 2002). Kandungan agar-agar dari Gelidium sp. dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan agar dari beberapa spesies Gelidium
berdasarkan berat kering
Secara umum, rumput laut memiliki komponen utama
karbohidrat (gula atau vegetable gum),
protein, lemak, dan abu yang merupakan mineral. Selain itu Gelidium sp.
juga mengandung beberapa pigmen (pikoeritrin r, klorofil a, karoten b,
pikosianin r) yang terkandung dalam dinding selnya (Yunizal 2002). Komposisi
kimia rumput laut Gelidium dapat dilihat pada tabel 2. Selain itu Gelidium
juga mempunyai kandungan vitamin B kolesterol
dan beberapa sterol, protein sebagai antikoagulan dan ektrak lipid larut air
sebagai anti-inflamatory.
Tabel 2. Komposisi kimia Gelidium berdasarkan berat
kering

Hasil pengamatan
Gelidium sp. yang didapat di Pantai Kondang Merak sesuai
dengan literatur-literatur yang telah dijelaskan diatas.
3.3 Laminnaria sp
Gambar
Pengamatan
|
Gambar
Literatur
|
![]() |
![]()
(Yunizal, 2002)
|
3.3.1 Klasifikasi
Klasifikasi
Laminnaria sp menurut Armisen dalam Phillips dan Williams
(2002) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi: Phaeophyta
Kelas
: Phaeophyceae
Bangsa
: Laminariales
Suku:
Laminariaceae
Marga
: Laminaria
Jenis
: Laminaria sp.
3.3.2 Pembahasan
3.3.2.1
Laminnaria sp
Algae spesies Laminnaria sp ditemukan di zona surut pantai
Selatan Kondang Merak. Spesies ini berada 10 meter dari bibir pantai dan
melekat pada karang. Warna asli dari spesies ini adalah coklat yang
thallusnya/blades berbentuk seperti daun dengan pinggirnya bergerigi
berdempetan. Spesies ini tidak begitu banyak dibadingkan dengan Ulva lactuca yang mendominasi algae di pantai Selatan
Kondang Merak. Laminnaria sp memiliki thallus berbentuk pipih, dan bisa
diukur diameter dan panjangnya. Bagian- bagian tubuh dari Laminnaria
sp
yaitu memiliki
holdfast sebagai tempat melekat di karang, frond sebagai tangkai tempat
melekatnya blades atau thallus, blades atau thallus, dan staipe sebagai batang.
Ditemukan percabangan dikotom. Dan warna setelah mengalami pengawetan adalah
sama dengan warna aslinya yaitu coklat.
Genus Laminnaria sp memiliki
thalus sporofit dibedakan menjadi helai, tangkai dan rizoid. Helai tumbuh di
ujung tangkai, utuh atau terbagi menjadi segmen-segmen vertikal. Tangkai
berbentuk tabung, seperti batang, agak pipih, tanpa cabang, panjangnya sangat
beragam. Tangkai terdiri dari medula dan korteks yang dikelilingi selapis sel
serupa sel epidermis. Rizoid berbentuk cawan, bercabang-cabang dikotom dan
memiliki jari-jari panjang yang disebut haptera. Lamina memiliki pola
pertumbuhan yang berbeda-beda. Lapisan luar sel yang disebut meristoderm adalah
daerah utama pembentuk sel baru. Meristoderm terutama aktif pada perbatasan
helai dan tangkai, dimana sel-sel baru ditambahkan ke helai, tangkai dan bagian
interior. Pada tangkai lebih rendah, permukaan lapisan di seluruh talus juga
menunjukkan aktivitas meristematik (Setyawan, 2000: 52-53).
Bagian dalam talus dibedakan menjadi
beberapa lapisan. Permukaan talus ditututpi kutikula yang tersusun dari asam
alginat (algin). Kortek luar yang mengandung lapisan meristoderm terdiri dari
sel-sel kuboid kecil, yang sangat berpigmen dan berguna untuk fotosintesis.
Korteks dalam tersusun oleh sel-sel yang lebih panjang, kebanyakan tidak
berpigmen dan merupakan massa kompak. Medula di bagian tengah kurang rapat
terdiri dari sel-sel seperti benang panjang terdapat hifa dan sel pengangkut.
Sel pengangkut tersusun dalam barisan memanjang, ujungnya melebar dan menyatu.
Bahan organik yang banyak ditransportasikan adalah manitol (Setyawan, 2000: 53).
3.3.2.2 Reproduksi
Laminnaria
sp
berkembangbiak
melalui pembentukan sporangium unilokuler berbentuk gada dan parafisa pada
permukaan helai. Nukleus sporangium mula-mula melakukan pembelahan mitosis yang
diikuti pembelahan meiosis hingga terbentuk 32-64 nukleus. Sitoplasma terbagi
menjadi banyak sitoplasma anakan yang masing-masing mengandung satu nukleus dan
mengalami metamorfosis menjadi zoospora haploid. Setelah berenang beberapa lama
zoospora membulat membentuk dinding sel dan berkecambah menjadi gametofit
berbentuk filamen, yang hanya terdiri dari beberapa sel (Setyawan, 2000:
53).
Gametofit distimulasi sinar biru
membentuk gametangium, setelah sel gametofit berjumlah 2-3 buah. Gemetofit
jantan membentuk banyak anteridium pada ujung cabang. Oogonium dan anteridium
tumbuh pada individu yang berbeda. Setiap anteridium menghasilkan satu sperma
dan setiap oogonium menghasilkan satu sel telur. Setelah ekstrusi oogonium, sel telur tetap
melekat pada permukaan luar oogonium dan mensekresikan feromon (lamoksirine)
yang mendorong pelepasan sperma dari anteridium dan menarik sperma ke sel telur
(Setyawan, 2000: 53).
Anterozoid berenang menuju sel telur
kemudian bersatu. Terjadinya pembuahan tergantung temperatur. Zigot yang
terbentuk tumbuh menjadi sporofit diploid. Sporofit muda membentuk gametofit
betina mikroskopis. Bentuk sporofit sangat beda dengan gametofit, jadi daur
hidup bersifat heteromorfik dan tergolong dalam heterogeneretae. Pada Laminnaria saccarina jenis kelamin
gametofit ditentukan pada saat meiosis, dimana separuh zoospora akan tumbuh
menjadi gametofit betina separuh sisanya menjadi gametofit jantan (Setyawan, 2000:
53-54).
Laminnaria
saccarina merupakan kelompok paling sering ditemukan mencapai panjang tiga
meter atau lebih. Kelompok ini berbeda dengan Laminnaria lain karena memiliki helai yang menggelembung atau
menjari. Helai menjari dibentuk oleh robeknya helai yang tipis dan tidak
berlanjut ke tangkai. Apabila Laminnaria
saccarina dianggap sebagai pola dasar kelompok, maka pada genus yang lebih
maju robekan helai mencapai tangkai, kantung udara terletak di bawah helai dan
terdapat sporofit (Setyawan, 2000: 54).
Hasil pengamatan Laminnaria sp. yang didapat pada studi
lapangan sesuai dengan literatur-literatur yang telah dijelaskan diatas.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dalam Studi Lapangan keanekaragaman alga yang
berhabitat di zona pasang surut Pantai Kondang Merak adalah dapat dikatakan masih cukup banyak , bagus
dan terjaga. Dibuktikan dengan melimpahnya spesies Ulva lactuca, Sargassum sp.
dan spesies-spesies yang lain seperti Turbinaria
conoides, Gelidium sp., Laminnaria sp. yang telah dibahas di
atas. Dan dari studi lapangan tersebut mahasiswa biologi angkatan 2011
menemukan 45 spesies. Baik spesies yang sudah diketahui namanya atau spesies baru yang belum diketahui namanya.
4.2 Saran
Saran untuk Studi lapangan berikutnya yaitu harus lebih baik dari yang
sekarang, baik dari segi sarana dan
prasarana harus lebih diperhatikan. Efisiensi waktu perlu diperhatikan agar
dapat melakukan studi lapangan dengan benar, optimal dan mendapatkan hasil yang
sebaik-baiknya.
DAFTAR
PUSTAKA
Armisén
R, Galatas F. 2000. Agar. Di dalam
Phillips GO, Williams PA (eds). Handbook of
Hydrocolloids. England:
Woodhead Publishing Limited
Fritisch,
F.E. 1945. The Structure and Reproduction
of The Algae. Inggris : Cambridge of
The University Press
Hasnunida ,Neni. 2007. Buku Ajar Botani Tumbuhan Rendah. Bandar
lampung : UNILA
Hatta, A.M. 1977. Fenologi
Makroalga Coklat Turbinaria ornata
(Phaeophyta : Fucales) di
Pulau Ambon. Ambon
: Jurnal LIPI. 351-365
Kadi A dan WS Atmadja. 1988.
Rumput Laut, Jenis, Reproduksi, produksi,budidaya dan
pascapanen. Jakarta : Seri
Sumberdaya Alam. P3O-LIPI
Mc dowell,R.A. 1977. Properties of alginate. London :
Alginate Industries Limited
McHugh DJ. 2003. A Guide
To The Seaweed Industry. www.fao.org/seaweed. [3Pebruari
2008].
Prathap, Achmad., Bongkot
Wichacucherd.,Pimonrat thongroy. 2006. Spatial and temporal
Variation
in density and thallus morphology of Turbinaria
ornata in thailand.
Thailand
: Jurnal Algae
Rachmaniar, R. 1999. Potensi Algae Coklat Di Indonesia dan Prospek
Pemanfaatannya.
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Setyawan, Ahmad Dwi. 2000. Petunjuk Praktikum Taksonomi Tumbuhan I
(Cryptogamae).
Surakarta: UNS
Yunizal. 2002. Teknologi
Ekstraksi Agar-agar dari Rumput Laut Merah(Rhodophyceae).
Jakarta:Pusat
Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.
Pusat
Riset Kelautan dan Perikanan.Departemen Kelautan dan Perikanan
LAMPIRAN









Tidak ada komentar:
Posting Komentar