Minggu, 25 November 2012

RESENSI NOVEL I

Alisa, Romantisme Hidup dan Mati

Judul Buku                  : SEOULOVER
Penulis                         : Suci Marini
Cetakan                       : I, Januari 2012
Tebal                           : 192 hlm; 20 cm
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Peresensi                      : Arsinta Sulistyorini*

Alisa Song atau Soo Min Ae adalah nama yang cocok untuk mengambarkan dua sisi kepribadian yang berbeda. Terlihat dari namanya sudah bisa tertebak dari kedua namanya yang berbeda yaitu antara Indonesia dan Korea. Tidak salah jika wajah Alisa Song terkesan indo dengan rambutnya yang bergelombang dan  hidung mancung warisan dari ayahnya.
Sosok remaja yang dimunculkan oleh penulis novel romantis. Peran yang menggambarkan bangkitnya rasa percaya diri seorang remaja yang kehilangan cahaya hidupnya karena kematian ibunya. Usaha-usaha yang ia perankan untuk menghapus segala kenangan pahit dan trauma sebagai cambuk untuk melanjutkan hidup yang masih sangat panjang.
Ambisi ayahnya agar Alisa mengikuti jejaknya di dunia hiburan sangat besar. Ia akan diorbitkan menjadi seorang penyanyi dengan suara merdu yang ia miliki. Negara Korea adalah tempat yang cocok untuk mewujudkan ambisi itu. Ayahnya yang terkenal dengan Master Song pernah dilahirkan di negeri Gingseng tersebut.
Lugas dan renyah judul novel  Seoulover, mengisahkan pergolakan kehidupan seorang remaja dan huru-hara percintaan yang terjalin di dalamnya. Cerita yang inspiratif tentang pergulatan ketidakstabilan remaja dalam menghadapi tuntutan di dunia yang baru baginya, dunia hiburan yang penuh dengan trik dan intrik. Sehingga cerita ini cukup menggugah adrenalin para pembaca untuk terbangun dan menyelami kembali  kisah dan usaha dalam novel Seoulover.
Novel rintisan yang ditulis oleh Suci Marini, penggalan nama dari Suci Marini Novianty yang menghadirkan nuansa baru dalam dunia pernovelan dan masih menuntut ilmu di Yogyakarta. Kepedulian dan ketertarikan tentang dunia hiburan membuat penulis mampu melukiskan setiap titik kecil dari glamornya dunia hiburan tersebut.
Sehingga pantas ia dapat menghadirkan novel romantis ini yang terdapat banyak ibrah di dalamnya dan tidak kalah dengan novel Padang Bulan. Sehingga novel ini harus serta merta dibaca oleh semua kalangan khususnya remaja dan penikmat seni hiburan tanah air sebagai bagian penting dalam memperluas wawasan untuk refleksi kehidupan nyata.
Kemasan sastra tulisan yang dikemas Suci dalam 18 bagian. Seraya mengingatkan pada pepatah Arab Wala huznun yaduumu wala sururun, wala’ usrun ‘alaika wala rakhaqum”, yang artinya “Dan tidak ada kesedihan ataupun kebahagiaan yang kekal, tidak ada kesulitan ataupun kemudahan bagimu yang kekal”.
Bermula dari cerita karut-marut kehidupan dan perjuangan tokoh utama dalam memahat ukiran di dunia hiburan Korea, tercentakan pada bagian pertama hingga bagian keenam.
Pada bagian tersebut menjadi bagian integral ketika membincangkan soal karier dan percintaan. Lamunkan dalam cerita novel telah dikisahkan tentang perjalanan penyanyi remaja mengalami pasang surut yang sangat hebat. Awalnya dipuja-puja akan tetapi pada suatu ketika semuanya berubah menjadi dingin dan berbeda. Fitnah kejam yang dilontarkan ke tokoh utama melalui website dan forum-forum lain, sangat membuat tokoh utama syok dan tertohok.
Wajah lesu, loyo tak bersemangat ketika harus bolak-balik dihadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang tak mampu lagi untuk berkompromi. Namun, sosok Soon Min Ho yang meyejukkan hati memberi bumbu lain dalam kehidupan Alisa. Perasaan cinta yang mendalam Alisa, tak mampu dibalas oleh Soon Min Ho karena kontraknya dengan JK Entertainment melarang para artisnya untuk pacaran. Alasan-alasan yang krusial di atas semakin membulatkan tekad Alisa untuk kembali ke Jakarta tempat ibunya berasal.
Kembalinya sang Penyanyi Alisa Song
Hal yang sangat menarik, cerita yang sedikit beda pada novel ini. Ketika Alisa Song kembali dari absennya dari  dunia hiburan dengan menggenggam harapan akan menemukan cintanya yang dia tinggal di Korea selama ini. Namun harapan ini berbeda dengan kenyataan yang ada. Tentu kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut tidak bisa diterima begitu saja.
Cinta yang pernah ia tinggalkan dan kini dia akan menjemputnya ternyata sudah berbeda. Janji yang seharusnya dipenuhi Soon Min Ho untuk menunggunya ternyata tak dapat terealisasikan. Dan sosok wanita cantik dengan tubuh seksi bernama Ha Na itu melengkapi kekecewaan Soon Min Ae.
Sebagai puncaknya, tokoh utama Soon Min Ae kecelakaan di hari ulang tahunnya. Momen yang sangat tidak mengenakkan baginya, tidak ada ucapan selamat ulang tahun dari orang terdekatnya.
Kejadian seharian itu hanya manipulasi dan mereka sudah mempersiapkan itu jauh hari sebelumnya. Tapi tetap saja nafas Soon Min Ae sesak karena Soo Min Ho selalu menggandeng pacarnya yang super centil. Hingga suatu ketika ia mendengar Soon Min Ho masuk rumah sakit, dengan kondisi yang sangat parah.
Kanker usus stadium akhir inilah yang menjadi sebab Soon Min Ho bersandiwara memiliki pacar agar Soon Min Ae tidak khawatir. Dan akhirnya cinta mereka benar-benar bersatu dalam sehari. Dan dalam sehari juga mereka terpisah untuk selama-lamanya. Kini Alloh telah mengambil Soon Min Ho untuk selama-lamanya.
Sederet cerita yang dipaparkan memberikan refleksi terhadap para pembaca yang mau berusaha dalam hal pengembangan kepribadian dalam proses pematangan kejiwaan. Perjuangan kehidupan yang diceritakan dalam kisah sekembalinya sang penyanyi Alisa Song menjadi bukti bahwa buah kesabaran itu manis rasanya dan pikiran positif itu bisa merubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin dan berlaku sebaliknya.
Petikan langsung dalam novel tersebut yang dilontarkan Soon Min Ho kekasih Soon Min Ae berkata: “Kamu harus jatuh cinta lagi nanti, tapi kamu tetap tidak boleh melupkan aku. Dan tetaplah melanjutkan kariermu”.
Terlepas dari itu semua, novel romantis yang berakhir sad ending ini mampu memberikan gambaran yang nyata mengenai kehidupan dengan bumbu percintaan di dalamnya. Oleh karena itu novel ini sangat layak untuk dibaca. Terlebih sebagai motivasi para remaja yang gandrung akan jati dirinya.

                                                                                                            *) Arsinta Sulistyorini
Mahasiswi UIN Maliki Malang
dan sedang belajar di Kedai Sinau LKP2M
                                                                                     



Tidak ada komentar:

Posting Komentar