MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA

Dosen Pengampu : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7 : Atik Bilah Naja (11620070)
Khusnul Khotimah (11620071)
Anggik Tri Mardi N (11620076)
Arsinta Sulistyorini (11620077)
Amanatul mubtadiah (11620078)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan
karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu
ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat
yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk
sedemikian rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل
شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta
isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui
hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para
ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang
remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya. Hingga bagi
mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam
ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت
هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau
menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak
hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang bintang dan seluruh isi
alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk
tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق
السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب
“ Dan sungguh dalam penciptaan
langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda (
keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat
dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi
ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal
iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui
makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra
keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun
untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada
keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa
sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang
kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan
foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk
lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan,
Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan
daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada
tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe
yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun
yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa
tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini
dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan
menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan
lemah.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada
umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang
sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah
dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak
berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan
telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi
pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan
tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun
secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari
daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula
juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap
sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain
sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun

Daun yang termodifikasi secara
keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina
phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea)
atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola
dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri
umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku
Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk
menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari
daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau
sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun
yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi
sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut
biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya
termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun
diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/
phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).

Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu
saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi
tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak
daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis),
ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak
daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia)
dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril.
Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia
aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung
daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala
lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel
kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan
untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral
membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah
tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun
permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang
mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada
beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat
menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili
Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan
cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi
batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus).
Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang
sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini
biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang
tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar
terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika
masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil
dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).

Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi
lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate
bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar
mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini
disebut Tunic. Tunic
berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan
kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik
terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan
basal. Modifikasi yang terjadi pada
bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax.
Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril.
Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia
hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula
melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).




DAFTAR PUSTAKA
Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991.
An Illustrated Guide to Flowering Plant
Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby
Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan
Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung:
ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora.
Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi
Tumbuhan. Gadjah Mada Universit: Yogyakarta.
MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA

Dosen Pengampu : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7 : Atik Bilah Naja (11620070)
Khusnul Khotimah (11620071)
Anggik Tri Mardi N (11620076)
Arsinta Sulistyorini (11620077)
Amanatul mubtadiah (11620078)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan
karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu
ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat
yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk
sedemikian rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل
شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta
isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui
hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para
ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang
remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya. Hingga bagi
mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam
ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت
هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau
menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak
hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang bintang dan seluruh isi
alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk
tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق
السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب
“ Dan sungguh dalam penciptaan
langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda (
keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat
dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi
ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal
iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui
makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra
keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun
untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada
keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa
sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang
kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan
foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk
lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan,
Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan
daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada
tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe
yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun
yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa
tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini
dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan
menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan
lemah.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada
umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang
sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah
dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak
berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan
telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi
pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan
tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun
secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari
daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula
juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap
sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain
sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun

Daun yang termodifikasi secara
keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina
phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea)
atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola
dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri
umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku
Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk
menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari
daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau
sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun
yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi
sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut
biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya
termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun
diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/
phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).

Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu
saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi
tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak
daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis),
ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak
daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia)
dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril.
Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia
aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung
daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala
lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel
kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan
untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral
membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah
tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun
permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang
mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada
beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat
menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili
Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan
cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi
batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus).
Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang
sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini
biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang
tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar
terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika
masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil
dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).

Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi
lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate
bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar
mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini
disebut Tunic. Tunic
berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan
kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik
terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan
basal. Modifikasi yang terjadi pada
bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax.
Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril.
Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia
hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula
melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).




DAFTAR PUSTAKA
Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991.
An Illustrated Guide to Flowering Plant
Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby
Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan
Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung:
ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora.
Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi
Tumbuhan. Gadjah Mada Universit: Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar