Minggu, 25 November 2012



MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA




Dosen Pengampu        : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7        : Atik Bilah Naja                     (11620070)
  Khusnul Khotimah                (11620071)
  Anggik Tri Mardi N              (11620076)
  Arsinta Sulistyorini               (11620077)
  Amanatul mubtadiah                        (11620078)
 



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk sedemikian  rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya.  Hingga bagi mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang  bintang dan seluruh isi alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk  tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب


“ Dan sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda ( keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan, Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan lemah.



BAB II
PEMBAHASAN
Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula  juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah  dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/ phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).
Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis), ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia) dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril. Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

 
            Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus). Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).
Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini disebut Tunic.  Tunic berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan basal.  Modifikasi yang terjadi pada bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax. Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril. Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).
 

 


DAFTAR PUSTAKA

Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991. An Illustrated Guide to Flowering Plant Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi.           Bandung: ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora. Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada Universit:     Yogyakarta.



MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA




Dosen Pengampu        : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7        : Atik Bilah Naja                     (11620070)
  Khusnul Khotimah                (11620071)
  Anggik Tri Mardi N              (11620076)
  Arsinta Sulistyorini               (11620077)
  Amanatul mubtadiah                        (11620078)
 



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk sedemikian  rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya.  Hingga bagi mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang  bintang dan seluruh isi alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk  tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب


“ Dan sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda ( keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan, Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan lemah.



BAB II
PEMBAHASAN
Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula  juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah  dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/ phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).
Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis), ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia) dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril. Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

 
            Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus). Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).
Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini disebut Tunic.  Tunic berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan basal.  Modifikasi yang terjadi pada bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax. Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril. Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).
 

 


DAFTAR PUSTAKA

Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991. An Illustrated Guide to Flowering Plant Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi.           Bandung: ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora. Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada Universit:     Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar