Minggu, 25 November 2012

RESENSI NOVEL I

Alisa, Romantisme Hidup dan Mati

Judul Buku                  : SEOULOVER
Penulis                         : Suci Marini
Cetakan                       : I, Januari 2012
Tebal                           : 192 hlm; 20 cm
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Peresensi                      : Arsinta Sulistyorini*

Alisa Song atau Soo Min Ae adalah nama yang cocok untuk mengambarkan dua sisi kepribadian yang berbeda. Terlihat dari namanya sudah bisa tertebak dari kedua namanya yang berbeda yaitu antara Indonesia dan Korea. Tidak salah jika wajah Alisa Song terkesan indo dengan rambutnya yang bergelombang dan  hidung mancung warisan dari ayahnya.
Sosok remaja yang dimunculkan oleh penulis novel romantis. Peran yang menggambarkan bangkitnya rasa percaya diri seorang remaja yang kehilangan cahaya hidupnya karena kematian ibunya. Usaha-usaha yang ia perankan untuk menghapus segala kenangan pahit dan trauma sebagai cambuk untuk melanjutkan hidup yang masih sangat panjang.
Ambisi ayahnya agar Alisa mengikuti jejaknya di dunia hiburan sangat besar. Ia akan diorbitkan menjadi seorang penyanyi dengan suara merdu yang ia miliki. Negara Korea adalah tempat yang cocok untuk mewujudkan ambisi itu. Ayahnya yang terkenal dengan Master Song pernah dilahirkan di negeri Gingseng tersebut.
Lugas dan renyah judul novel  Seoulover, mengisahkan pergolakan kehidupan seorang remaja dan huru-hara percintaan yang terjalin di dalamnya. Cerita yang inspiratif tentang pergulatan ketidakstabilan remaja dalam menghadapi tuntutan di dunia yang baru baginya, dunia hiburan yang penuh dengan trik dan intrik. Sehingga cerita ini cukup menggugah adrenalin para pembaca untuk terbangun dan menyelami kembali  kisah dan usaha dalam novel Seoulover.
Novel rintisan yang ditulis oleh Suci Marini, penggalan nama dari Suci Marini Novianty yang menghadirkan nuansa baru dalam dunia pernovelan dan masih menuntut ilmu di Yogyakarta. Kepedulian dan ketertarikan tentang dunia hiburan membuat penulis mampu melukiskan setiap titik kecil dari glamornya dunia hiburan tersebut.
Sehingga pantas ia dapat menghadirkan novel romantis ini yang terdapat banyak ibrah di dalamnya dan tidak kalah dengan novel Padang Bulan. Sehingga novel ini harus serta merta dibaca oleh semua kalangan khususnya remaja dan penikmat seni hiburan tanah air sebagai bagian penting dalam memperluas wawasan untuk refleksi kehidupan nyata.
Kemasan sastra tulisan yang dikemas Suci dalam 18 bagian. Seraya mengingatkan pada pepatah Arab Wala huznun yaduumu wala sururun, wala’ usrun ‘alaika wala rakhaqum”, yang artinya “Dan tidak ada kesedihan ataupun kebahagiaan yang kekal, tidak ada kesulitan ataupun kemudahan bagimu yang kekal”.
Bermula dari cerita karut-marut kehidupan dan perjuangan tokoh utama dalam memahat ukiran di dunia hiburan Korea, tercentakan pada bagian pertama hingga bagian keenam.
Pada bagian tersebut menjadi bagian integral ketika membincangkan soal karier dan percintaan. Lamunkan dalam cerita novel telah dikisahkan tentang perjalanan penyanyi remaja mengalami pasang surut yang sangat hebat. Awalnya dipuja-puja akan tetapi pada suatu ketika semuanya berubah menjadi dingin dan berbeda. Fitnah kejam yang dilontarkan ke tokoh utama melalui website dan forum-forum lain, sangat membuat tokoh utama syok dan tertohok.
Wajah lesu, loyo tak bersemangat ketika harus bolak-balik dihadapkan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang tak mampu lagi untuk berkompromi. Namun, sosok Soon Min Ho yang meyejukkan hati memberi bumbu lain dalam kehidupan Alisa. Perasaan cinta yang mendalam Alisa, tak mampu dibalas oleh Soon Min Ho karena kontraknya dengan JK Entertainment melarang para artisnya untuk pacaran. Alasan-alasan yang krusial di atas semakin membulatkan tekad Alisa untuk kembali ke Jakarta tempat ibunya berasal.
Kembalinya sang Penyanyi Alisa Song
Hal yang sangat menarik, cerita yang sedikit beda pada novel ini. Ketika Alisa Song kembali dari absennya dari  dunia hiburan dengan menggenggam harapan akan menemukan cintanya yang dia tinggal di Korea selama ini. Namun harapan ini berbeda dengan kenyataan yang ada. Tentu kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut tidak bisa diterima begitu saja.
Cinta yang pernah ia tinggalkan dan kini dia akan menjemputnya ternyata sudah berbeda. Janji yang seharusnya dipenuhi Soon Min Ho untuk menunggunya ternyata tak dapat terealisasikan. Dan sosok wanita cantik dengan tubuh seksi bernama Ha Na itu melengkapi kekecewaan Soon Min Ae.
Sebagai puncaknya, tokoh utama Soon Min Ae kecelakaan di hari ulang tahunnya. Momen yang sangat tidak mengenakkan baginya, tidak ada ucapan selamat ulang tahun dari orang terdekatnya.
Kejadian seharian itu hanya manipulasi dan mereka sudah mempersiapkan itu jauh hari sebelumnya. Tapi tetap saja nafas Soon Min Ae sesak karena Soo Min Ho selalu menggandeng pacarnya yang super centil. Hingga suatu ketika ia mendengar Soon Min Ho masuk rumah sakit, dengan kondisi yang sangat parah.
Kanker usus stadium akhir inilah yang menjadi sebab Soon Min Ho bersandiwara memiliki pacar agar Soon Min Ae tidak khawatir. Dan akhirnya cinta mereka benar-benar bersatu dalam sehari. Dan dalam sehari juga mereka terpisah untuk selama-lamanya. Kini Alloh telah mengambil Soon Min Ho untuk selama-lamanya.
Sederet cerita yang dipaparkan memberikan refleksi terhadap para pembaca yang mau berusaha dalam hal pengembangan kepribadian dalam proses pematangan kejiwaan. Perjuangan kehidupan yang diceritakan dalam kisah sekembalinya sang penyanyi Alisa Song menjadi bukti bahwa buah kesabaran itu manis rasanya dan pikiran positif itu bisa merubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin dan berlaku sebaliknya.
Petikan langsung dalam novel tersebut yang dilontarkan Soon Min Ho kekasih Soon Min Ae berkata: “Kamu harus jatuh cinta lagi nanti, tapi kamu tetap tidak boleh melupkan aku. Dan tetaplah melanjutkan kariermu”.
Terlepas dari itu semua, novel romantis yang berakhir sad ending ini mampu memberikan gambaran yang nyata mengenai kehidupan dengan bumbu percintaan di dalamnya. Oleh karena itu novel ini sangat layak untuk dibaca. Terlebih sebagai motivasi para remaja yang gandrung akan jati dirinya.

                                                                                                            *) Arsinta Sulistyorini
Mahasiswi UIN Maliki Malang
dan sedang belajar di Kedai Sinau LKP2M
                                                                                     





MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA




Dosen Pengampu        : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7        : Atik Bilah Naja                     (11620070)
  Khusnul Khotimah                (11620071)
  Anggik Tri Mardi N              (11620076)
  Arsinta Sulistyorini               (11620077)
  Amanatul mubtadiah                        (11620078)
 



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk sedemikian  rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya.  Hingga bagi mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang  bintang dan seluruh isi alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk  tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب


“ Dan sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda ( keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan, Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan lemah.



BAB II
PEMBAHASAN
Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula  juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah  dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/ phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).
Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis), ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia) dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril. Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

 
            Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus). Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).
Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini disebut Tunic.  Tunic berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan basal.  Modifikasi yang terjadi pada bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax. Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril. Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).
 

 


DAFTAR PUSTAKA

Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991. An Illustrated Guide to Flowering Plant Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi.           Bandung: ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora. Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada Universit:     Yogyakarta.



MAKALAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN 1
MORFOLOGI AKAR, BATANG, DAUN DAN ORGANA ACCESSORIA




Dosen Pengampu        : Evika Sandi Savitri, M.P
Oleh Kelompok 7        : Atik Bilah Naja                     (11620070)
  Khusnul Khotimah                (11620071)
  Anggik Tri Mardi N              (11620076)
  Arsinta Sulistyorini               (11620077)
  Amanatul mubtadiah                        (11620078)
 



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam terbentuk semata mata bukan karena kebetulan yang tidak disengaja, atau hanya terbentuk dari suatu ketiadaan menjadi sesuatu yang ada. Namun alam tercipta karena ada suatu Zat yang Maha Agung yang mengatur “Robb” dan menskenario hingga terbentuk sedemikian  rupa dengan segala keteraturan.
وهو على كل شيء قدرا
“ dan Dia berkuasa “
Melalui alam semesta beserta isinya,Tuhan berkreasi dan menampakan sifat keagunganNya. Tidak hanya melalui hal-hal yang besar seperti langit saja,yang sampai sekarang membuat takjub para ilmuwan yang mempelajarinya, namun melalui hal-hal kecil dan sering dipandang remeh pun Tuhan memperlihatkan kesempurnaan kreasi-Nya.  Hingga bagi mereka yang dapat melihat dan menyibak tabir ketuhanan yang terdapat didalam ciptaan-Nya mereka tak henti-hentinya mengucapkan
ربنا ما خلقت هذا باطلا
“ wahai Tuhan …tidaklah engkau menciptakan semua ini bathil “
Kesempurnaan kreasi Tuhan tidak hanya terlihat dari rumitnya penciptaan bintang  bintang dan seluruh isi alam angkasa luar yang begitu hebat. Dia pun menampakannya dalam bentuk  tumbuh-tumbuhan serta hewan dan alam disekitar kita.
ان في خلق السموات والارض واختلاف اليل والنهار لايات لاولى الالباب


“ Dan sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta dalam pergantian siang dan malam ada tanda tanda ( keagunganNya )bagi orang orang yang berakal “
Ayat diatas merupakan cuplikan ayat dalam Al qur’an yang mengisyaratkan kepada kita untuk berfikir dan merenungi ciptaan Allah. Karena lewat media alamlah kita lebih mengenal dan mempertebal iman kita.
Berangkat dari ayat tersebut melalui makalah ini penyusun mengajak para pembaca untuk bersama sama menyelami samudra keindahan dan keagungan kreasi ciptaNya. Bertafakur dan mempelajarinya. Namun untuk membatasi ruang bahasan makalah ini, penyusun lebih memfokuskan pada keunikan morfologi tumbuhan saja.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sejatinya tumbuhan hanya memiliki bagian pokok penting yang menunjang kelangsungan hidup tumbuhan. Bagian pokok tersebut adalah radix, caulis,dan foulis. Namun pada beberapa tumbuhan tertentu ada yang memiliki bentuk bentuk lain yang sangat unik dan memiliki kegunaan khusus. Pada beberapa tumbuhan, Tuhan melengkapi atau memodifikasi bentuk suatu tubuh utama guna memberikan daya survive untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan keturunannya pada tumbuhan tersebut .
Sebagai contoh pada tumbuhan jahe yang terdapat suatu keunikan berupa rhizome yaitu suatu batang beserta daun yang bermetamorfosis atau berubah bentuk menjadi seperti akar, serta beberapa tumbuhan yang memiliki duri sebagai pelindung.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah ilmu serta iman kita semua karena ilmu tanpa dilandasi iman akan menimbulkan kerusakan dan kesombongan, sedangkan Iman tanpa ditunjang ilmu akan lemah.



BAB II
PEMBAHASAN
Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah, baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu dikatakan telah mengalami modifikasi (Bell, A.D. 1991).
Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi atau penambahan jaringan-jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan (daun secara utuh) atau hanya bagian-bagian tertentu dari daun. Bagian daun tambahan, seperti stipula  juga dapat termodifikasi menjadi bentuk lain (Bell, A.D. 1991).
Bagian lain tumbuhan yang dianggap sebagai bentuk modifikasi dan kombinasi bagian pokok tumbuhan antara lain sebagai berikut (aryulina,2004):
1.Kuncup dan bunga merupakan modifikasi daun
2. Duri merupakan modifikasi batang dan daun
3.Umbi merupakan modifikasi batang dan akar
4. Rimpang merupakan modifikasi batang dan daun
Daun yang termodifikasi secara keseluruhan (daun secara utuh) dapat berubah antara lain menjadi duri (spina phyllogenum), sulur (tendril), sisik (cataphyll/scale), brakte (bractea) atau brakteola (bracteola) dan seludang bunga (spatha). Brakte/brakteola dan seludang bunga lebih lanjut akan dibahas pada perbungaan (Bell, A.D. 1991).
Daun yang termodifikasi menjadi duri umum ditemukan pada suku cactaceae, sedangkan sisik dapat ditemukan pada suku Cassuarinaceae, Equisetaceae, dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki rhizoma. Untuk menyatakan bahwa duri atau sisik dari suatu tumbuhan merupakan modifikasi dari daun antara lain dapat dilihat dari adanya tunas aksilar pada ketiak duri atau sisik tersebut dan letaknya yang tersusun seperti letak daun pada umumnya. Daun yang termodifikasi menjadi sisik umumnya berukuran lebih kecil dan berfungsi sebagai pelindung meristem vegetatif maupun meristem bunga. Sisik tersebut biasanya mengering bila tumbuhan atau organ yang ditempatinya telah  dewasa (Bell, A.D. 1991).
Tumbuh-tumbuhan yang daunnya termodifikasi menjadi duri atau sisik biasanya fungsi fotosintesis pada daun diambil alih oleh batang. Batang yang demikian itu disebut Cladodium/ phyllocladium (lihat pembahasan tentang modifikasi batang) (Bell, A.D. 1991).
Pada tumbuhan dengan daun yang termodifikasi pada bagian tertentu saja biasanya sifat-sifat daunnya masih dengan mudah dapat dikenali. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada petiolus, rakis, helaian daun, ujung daun, dan anak daun dari daun majemuk . Pada beberapa tumbuhan memanjat, rakis (seperti pada Clematis), ujung daun (seperti pada Gloriosa dan Littonia modesia), anak daun dari daun majemuk (seperti pada Anemone dan Pyrostegia venusia) dapat termodifikasi menjadi alat panjat yang disebut sulur atau tendril. Anak daun dari daun majemuk juga dapat termodikasi menjadi duri, seperti pada Parkinsonia aculeata dan Desmoncus sp. Pada Nepenthes, modifikasi ujung daun membentuk perangkap serangga (ascidium) yang berbentuk seperti piala lengkap dengan tutupnya. Dinding perangkap tersebut memiliki banyak sel kelenjar yang berfungsi untuk menghasilkan madu dan enzim-enzim yang diperlukan untuk menghancurkan serangga yang terperangkap (Bell, A.D. 1991).
Pada Acacia, petiolus mengalami pemipihan ke arah lateral membentuk organ fotosintesis, dimana helaian daun yang sebenarnya telah tereduksi (gambar 31). Helaian daun tersebut masih dapat dilihat pada daun-daun permulaan yang terdapat pada kecambah tumbuhan yang bersangkutan. Petiolus yang mengalami modifikasi seperti ini disebut sebagai phyllodium (Bell, A.D. 1991).

 
            Selain bentuk modifikasi seperti tersebut di atas, pada beberapa tumbuhan modifikasi terjadi sebagai akibat kebutuhan akan organ tempat menyimpan cadangan makanan. Sebagai contoh, pada beberapa spesies famili Amarylidaceaea dan Liliaceae pelepah daun digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Akibatnya, pelepah daun tersebut membengkak menutupi batangnya, membentuk apa yang disebut umbi lapis (bulbus). Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk umbi lapis biasanya memiliki batang yang sangat pendek sebagai akibat hampir tidak ada perpanjangan ruas. Batang ini biasanya disebut sebagai papan basal (basal plate). Batang tersebut tumbuh vertikal dan memiliki pola percabangan simpodial. Tunas aksilar terdapat pada ketiak sisik dan akan tumbuh membentuk umbi lapis baru. Ketika masih terdapat di dalam ketika sisik umbi lapis baru ini ukurannya sangat kecil dan biasanya disebut bulblet (Bell, A.D. 1991).
Ada dua jenis umbi lapis, yaitu umbi lapis sisik (tunicate bulb) dan umbi lapis non-sisik (nontunicate bulb). Pada umbi lapis sisik, sisik atau lapisan sisik paling luar mengering membentuk struktur serupa membran. Sisik terluar yang mengering ini disebut Tunic.  Tunic berfungsi untuk melindungi sisik-sisik yang ada di dalamnya dari kekeringan dan kerusakan mekanik. Umbi lapis non-sisik tidak memiliki tunic. Setiap sisik terpisah satu sama lain, mudah terlepas dan masing-masing melekat pada papan basal.  Modifikasi yang terjadi pada bagian-bagian tambahan dari daun antara lain seperti yang terjadi pada Smilax. Pada tumbuhan tersebut stipula telah termodifikasi menjadi sulur atau tendril. Modifikasi stipula dapat pula terjadi pada duri seperti yang ditemukan pada Acacia hindisii dan Parkinsonia aculeata. pada Pisum sativum stipula melebar dan berfungsi sebagai fotosintesis (Bell, A.D. 1991).
 

 


DAFTAR PUSTAKA

Aryulina,Diah.2004. Biologi jilid 2. Jakarta : Erlangga
Bell, A.D. 1991. An Illustrated Guide to Flowering Plant Mophology. Saint Louis:The CV. Mosby Company
Campbell.1999. Biologi I. Jakarta: Erlangga
Dasuki, Undang Ahmad. 1994. Bahan Kuliah Sistematik Tumbuhan Tinggi.           Bandung: ITB
Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. flora. Jakarta: Pradnya Paramita
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada Universit:     Yogyakarta.